“We create stres for ourselves because you feel like you have to do it. You have to. I don’t feel like that anymore.” –Oprah Winfrey

Sering kali kita merasakan kecemasan yang melemahkan diri kita sendiri saat harus menerima kenyataan, apalagi kenyataan bahwa diri kita kalah.

Misalnya, kita mengalami permasalahan keuangan, kesehatan atau sedang memiliki konflik dengan teman atau keluarga. Kita terus merasa stres di mana pun kita berada dan di berbagai kesempatan meski sudah berpindah lingkungan.

Sebagaian besar masalah sering kali kita sebut sebagai stres yang kita kaitkan semuanya dengan situasi yang mencekam, rasa cemas yang berlebihan, dan penuh tekanan.

Apa pun yang kita lakukan dan betapa pun keras kita berusaha, serta betapa pun keras kita berusaha, serta betapa keren  diri kita, dalam perjalanan hidup, kita akan selalu menemui masalah yang tidak bisa kita sangkal begitu saja.

Stres disebabkan oleh kejadian nyata yang sedang kita alami, kita rasa atau peristiwa yang akan kita alami yang membuat kita hilang keseimbangan dan mengaktifkan system respons stres dalam tubuh kita.

Dalam buku Why Zebra Don’t Get Ulcers, neuroscientist Universitas Standford Dr. Robert M. Sapolsky menjelaskan yang terjadi saat sistem respons stres aktif.

Energi bergerak dan dihantarkan ke bagian-bagian yang membutuhkan : detak jantung, tekanan darah, dan laju napas meningkat. Pemulihan dan pembangunan bagian-bagian yang rusak ditangguhkan sampai stres berlalu.

Pencernaan, pertumbuhan, daya tahan tubuh, dan system reproduksi menjadi terhambat. Rasa sakit berkurang, daya pikir menjadi tajam kembali, daya ingat meningkat dan penghilang alami stres atau analgesia, muncul.

Stres itu subjektif. Sebuah situasi kita stres belum pasti membuat orang lain stres. Mungkin situasi tersebut dianggap tidak mengganggu sama sekali.

Bahkan masalah yang sepele bagi sebagian orang dapat juga menyebabkan stres yang parah untuk orang lain. Perbedaan yan besar ini disebabkan oleh kecenderungan genetic dan pengalaman hidup setiap orang.

Respons terhadap stres dapat menyelamatkan hidup kita di situasi gawat darurat, tetapi jika sering aktif, berlebihan dalam jangka waktu yang lama karena kecemasan yang kronis atau gejolak emosi yang berkepanjangan, akan menyebabkan kerusakan yang serius di tubuh dan pikiran kita.

Kita menjadi rentan dan mudah menyerah kepada penyakit. Respons stres yang berkepanjangan untuk menghadapi stres sering kali lebih merusak daripada pemicu stres sendiri.

Bukan hanya karena hal ini meningkatkan risiko kita menjadi sakit atau mengurangi kemampuan kita untuk menghadapi penyakit. Suatu kemampuan yang sebenarnya sudah kita meiliki.

Kita tidak punya kendali atas kecenderungan genetic kita, tetapi kita punya banyak cara yang bisa kita pilih dan lakukan untuk menyikapi dan menjalani hidup.

Salah satu cara yang telah terbukti membantu mengelola pengalaman hidup yang penuh dengan stres, termasuk dalam menghadapi kegagalan dan kekalahan, yaitu dengan mindfulness.

Adjie Silarus dalam bukunya Sadar Penuh Hadir Utuh mengartikan mindfullness sebagai cara sederhana untuk melatih diri agar sadar penuh, hadir utuh di sini dan saat ini, lebih menyadari kehidupan dengan segala yang terjadi setiap saat.

Sementara Juliet Adams, direktur “A Head for Work”, menjelaskan mindfulness dengan singkatan ABC

Awareness, menjadi lebih menyadari apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan, juga lebih menyadari apa yang terjadi di dalam pikiran dan di tubuh kita.

Being, kita menjadi diri apa adanya, menerima setiap pengalaman dan rasa yang hadir. Kita juga terhindar dari kecenderungan untuk bereaksi secara otomatis (auto-pilot) yang hanya berdasarkan pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi dan tidak membesarkan masalah yang ada dengan menciptakan cerita-cerita yang jauh dari kenyataan sehingga drama.

Creating, menciptakan jarak dari segala yang kita alami dan rasakan. Juga, menciptakan stimulus sehingga kita mengeluarkan respons, agar kita dapat memilih, melihat, dan mengambil tindakan dengan lebih bijaksana.

Melatih diri sadar penuh—hadir utuh (mindfulness)—akan membantu kita meletakkan masalah yang kita hadapi dalam sudut pandang yang bijaksana melalui pemahaman yang lebih baik terhadap yang terjadi secara menyeluruh.

by : Rosta