Jean Dominique Bauby : Penulis yang Lumpuh

Sedikitpun tidak pernah terlintas di pikran Jean Dominique Bauby seorang actor prancis, penulis dan editor of the French fashion magazine ELLE, bahwa suatu hari nanti puncak kariernya sebagai actor & penulis harus berakhir oleh Locked in Syndrome, sebuah penyakit stroke akut yang membuat tubuhnya lumpuh total. Satu satunya bagian tubuh yang masih bisa dia gerakkan adalah kelopak matanya kirinya.

Yang mengagumkan adalah semangat dan tekad hidupnya. Bauby menganggap kelumpuhan tubuhnya bukanlah akhir segalanya, karena meski tubuhnya lumpuh, tapi ia masih mampu mengaktifkan pikiran dan imajinasinya. Spirit inilah yang akhirnya mendorong Bauby untuk menulis kisah perjuangannya dalam melawan penyakit yang dideritanya. Nah, yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana cara Bauby menulis buku ?

Begini cara Jean menulis buku. Mereka (keluarga, perawat, teman- temannya) menunjukkan huruf demi huruf, dan Jean akan berkedip apabila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. Luar biasa bukan ? Buku yang diberi judul The Diving Bell And The Butterfly itu  akhirnya berhasil diterbitkan tanggal 7 Maret 1997. Dan Jean Dominique Bauby akhirnya meninggal tepat 2 hari setelah perilisan buku tersebut.

Ya, Jean Dominique Bauby adalah contoh orang yang tidak menyerah pada nasib yang digariskan untuknya. Dia tetap hidup dalam kelumpuhan dan tetap berpikir jernih untuk bisa menjadi seseorang yang berguna, walaupun untuk menelan ludah pun, dia tidak mampu, karena seluruh otot dan saraf di tubuhnya lumpuh.

Jean Dominique Bauby.

Jean, tetap hidup dengan bahagia dan optimistis, dengan kondisinya yang seperti itu. Sedangkan kita yang hidup tanpa punya problem seberat Jean, sering menjadi manusia yang selalu mengeluh.

Kalau begitu, benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Carl Jung “Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup.”

Carl Jung psikiater Swiss dan perintis psikologi analitik.pernah menulis begini, “Bagian yang paling menakutkan dan sekaligus menyulitkan adalah menerima diri sendiri secara utuh, dan hal yang paling sulit dibuka adalah pikiran yang tertutup.”