Perjalanan Bisnis Kakek Buyut Paris Hilton

Conrad Hilton dilahirkan pada tanggal 25 Desember 1887 di San Antonio, New Mexico, sebagai anak ke 2 dari 8 bersaudara, dan merupakan anak lelaki pertama di keluarganya. Ayahnya, Augustus Hover Hilton, termasuk orang yang sangat jeli dalam melihat peluang.

Dengan mengamati kehidupan para penambang batu bara & orang-orang yang bepergian pulang-balik melintasi perbatasan Mexico, Augustus menjadi memahami hal hal apa saja yang mereka butuhkan untuk keseharian mereka. Karena itulah, Augustus kemudian membuka toko kelontong sederhana.

Dalam waktu singkat, usaha keluarganya maju pesat. Bahkan, dari hasil usahanya ini, dia bersama keluarganya sempat menikmati liburan di Chicago dan menginap di sebuah hotel.

Pengalaman menginap di hotel itu membuat Hilton berpikir, mengapa dia tidak mengubah sebagian kamar di rumah keluarga mereka menjadi ruang tidur seperti yang ada di hotel. Kota ini butuh sebuah hotel, banyak penambang dan pendatang membutuhkan tempat menginap yang lebih baik.

Segera saja, Hilton mewujudkan idenya itu. Hilton pun segera mengubah setting rumahnya. Dia memasang tarif menginap sebesar dua setengah dolar per-hari. Awalnya, Hilton sempat menemui kesulitan mendapatkan pelanggan. Namun dia yakin dan optimis, bahwa jika dia memberikan pelayanan terbaik, maka akan menyebarlah cerita tentang hotelnya itu.

Hotel Hilton Pertama

Untuk layanan hotel, Hilton memberdayakan saudara-saudara perempuan dan ibunya untuk mengurusi dapur. Hilton sendiri mengurusi bawaan para tamu. Begitu toko kelontong ayahnya tutup pada jam 6 sore, Hilton makan malam sebentar dan langsung tidur.

Pada tengah malam, Hilton bangun untuk menjemput orang-orang yang turun dari kereta api pada jam 1 dini hari. Dia mengurusi barang-barang bawaan mereka, mendaftar tamu tamu, mengecek apakah segala kebutuhan mereka telah tersedia, seperti: selimut, sabun dan handuk, mencatat sarapan yang mereka inginkan di pagi hari, dan jam berapa mereka minta dibangungkan. Lalu, dia mengirimkan catatan tersebut kepada ibunya.

Setelah itu, Hilton berangkat lagi ke stasiun untuk menyambut para tamu yang menggunakan kereta jam 3 pagi . Bila penumpang terakhir sudah mendapatkan kamar, Hilton bisa tidur lagi, sekurang-kurangnya sampai jam 7 pagi. Pada jam itu dia bangun, mengurusi para tamu, lalu membuka toko kelontong ayahnya di jam 8 pagi.

Kini, kita mengenal Hilton sebagai pengusaha yang sukses dengan Hotel Hilton nya yang berkelas internasional. Siapapun, termasuk Hilton & keluarganya, tidak menyangka kalau penginapan yang dibangun secara sederhana itu, bakal menjelma menjadi sebuah jaringan bisnis perhotelan internasional yang sangat termasyhur. Pria yang mempunyai visi ini telah berhasil mengukir namanya dalam sejarah .