Saat Honda meluncurkan mobil elektrik hybridnya, Insight di tahun 1999, dengan harga USD 20.000, Honda sebenarnya menjual rugi. Demikian juga para produsen game console seperti Play Station atau Microsoft; atau para produsen printer ink-jet seperti HP dan Canon.

Sebaliknya, para pembuat TV plasma berusaha menjual produk awal mereka dengan harga selangit, dan baru perlahan-lahan menurunkan harga produk itu ketika volume penjualan meningkat. Nah, contoh tadi menunjukkan rumitnya masalah penetapan harga produk baru.

Honda menjual rugi Insight-nya karena melihat prospek jangka panjang industri ini. Mereka percaya, dengan bertambahnya volume penjualan dan pengalaman, biaya pembuatan akan menurun. Bagi mereka dalam kasus ini, hal yang paling penting adalah mempercepat laju adopsi produk dengan menawarkan harga murah terlebih dahulu.

Sedangkan alasan para produsen seperti Play Station, Microsoft, HP, atau Canon, punya alasan lain. Produk itu harus dijual semurah mungkin untuk menarik pembeli sebanyak-banyaknya.

Setelah itu barulah mereka menawarkan produk komplementor seperti CD video games atau tinta printer yang merupakan sumber keuntungan sesungguhnya, karena ciri konsumsinya yang berulang dan karena para pembeli yang sudah membeli produk itu mau tidak mau harus membeli produk komplementor yang sesuai.

Itulah alasan mengapa mereka bersedia menjual rugi produk mereka yang berfungsi sebagai kuda Troya. Jadi ternyata, untuk menetapkan harga bukan cuma masalah harga pokok produksi saja.